Showing posts with label history. Show all posts
Showing posts with label history. Show all posts

Kesultanan Banjar dan Kerajaan Tanah Bumbu Part 3

Kesultanan Banjar  dan Kerajaan Tanah Bumbu Part 3

Tahun 1620 – 1637, masa pemerintahan Ratu Agung dengan gelar Sultan Inayatullah (Raja V). 1634, VOC-Belanda mengirim 6 kapal dibawah pimpinan Gijsbert van Londensteijn kemudian ditambah beberapa kapal di bawah pimpinan  Antonie  Scop dan  Steven Batrentz. 29 November. 1635. Selain orang Belanda di Banjarmasin datang juga orang-orang Inggris dan Demak untuk berdagang. Pada tahun 1635 dibuat kontrak baru antara Belanda dan Banjar yang ditanda tangani oleh Syahbandar kerajaan Banjar bernama Retnady Ratya dari Gadja Babauw, seorang Gujarat.5  VOC- Belanda mendirikan kantor dagang di Banjarmasin di bawah pimpinan Wollebrandt Gelenysen de Jonge.
Pada tahun 1637 – 1642, masa pemerintahan Ratu Anom dengan gelar Sultan Saidulllah (Raja VI).   Tahun 1638, seorang Asisten Belanda terbunuh di Benua Anyar, pertempuran juga menewaskan 64 orang bangsa Belanda, selanjutnya 27 orang Martapura terbunuh, dibalas 40 orang  Belanda  tewas.6 Antara  tahun  1642 – 1660  masa pemerintahan  Pangeran Ratu dengan gelar Sultan Rakyat Allah (Raja VII). 1650 - Di Banjarmasin terdapat perwakilan dagang VOC. Pada akhir abad ke -16 kerajaan (kesultanan) Banjar telah mempunyai daerah pengaruhnya yakni Sukadana, Kotawaringin dan Lawe. Ketiga daerah ini  telah mengirim  upeti   secara  tetap kepada Banjarmasin.
Pada masa pemerintahan Sultan Amarullah Bagus Kusuma (1660 – 1663) komoditi perdagangan  lada  yang semakin ramai  di Banjarmasin sebagai barang dagangan utama saat itu, juga hasil-hasil bumi lainnya diperdagangkan, walaupun kesultanan Banjar di Kayu Tangi-Karang Intan telah terikat perjanjian damai kontrak dagang dengan VOC-Belanda tahun 1660, namun kenyataannya diatas kertas saja, karena perdagangan tetap berjalan seperti biasa lada tetap dijual pedagang Banjar kepada orang-orang Makasar yang datang ke Banjarmasin. Selain orang Makasar  juga orang-orang Cina datang ke Banjarmasin membeli hasil bumi disini.8
Pada masa Sultan Amarullah Bagus Kusuma (1660-1663) sebagai Sultan Banjar VII Kesultanan Banjarmasin semakin kuat dalam perekonomiannya, diakhir tahun 1662 menurut Barra dalam M. Idwar Saleh (1959) ada 12 jung orang Melayu, Inggris, Portugis dan lainnya mengangkut emas dan lada ke Makasar.9  Semasa Sultan Amarullah Bagus Kusuma inilah menurut versi tertentu tentang salah satu wilayah di Bagian Tenggara yang kemudian dikenal dengan Tanah Bumbu mulai muncul ke permukaan setelah adanya anggapan cerita, bahwa tokoh-tokoh orang Dayak  meminta bantuan kepada Sultan untuk mengamankan wilayah Pamukan dari gaangguan dan penyerbuan orang asing di negeri leluhur mereka. Saat itu tentunya sudah dikenal tentang nama Pamukan dan Cengal (Cingal), Sampanahan, Manunggul, Bangkalaan, Cantung, Batulicin dan Buntar Laut, tetapi belum dikenal nama Tanah Bumbu, dimana di wilayah yang kurang diperhatikan keberadaannya, namun versi ini harus dianalisis akan sumber kebenarannya pada bagian selanjutnya.

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 13 | History Of Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu  Part 13 | History Of Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia


  Puteri Kalungsu. Karena malu dengan keluarga dan Rakyat, akhirnya keraton dan kerajaan berpindah memasuki masa kerajaan Negara Daha dan diperintah oleh Raden Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan.
              Negara Daha terletak di Muara Hulak yang sekarang masih abadi dengan nama “Nagara” kawasan kecamatan yang termasuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bandar pelabuhan yang digunakan oleh Negara Daha adalah Muara Bahan (Marabahan sekarang di Kabupaten Barito Kuala).   Semntara itu Puteri Kalungsu tetap berada di Negara Dipa ia memerintah dalam pengaruh yang kecil, konon kematian Puteri Kelungsu hampir bersamaan dengan waktu kematian Lambung Mangkurat.  Saat kerajaan Nagara Daha berlangsung dalam pemerintahannya jabatan Mangkubumi dijabat oleh putera dari  Arya Megatsari bernama Arya Taranggana seorang cerdik dan bijaksana.
            Sekar Sungsang alias Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan sebagai raja di Negara Daha memiliki kepercayaan Hindu dengan  aliran Syiwa (Caiwa) yang dengan bantuan Jawa berhasil merebut kekuasaan atas Negara Dipa yang rupa-rupanya beragama Budha.31   Untuk mengukuhkan kekuasaanya ia membangun Candi Laras di Margasari dengan lingga yang terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Candi Laras tersebut di bangun diatas punden berundak-undak tiga, yang berukuran 100 x 100 x 2 meter tingkat I, 70 x 70 x 2 meter sebagai tingkat II, dan 30 x 30 x 1 meter sebagai tingkat III, Disini jelas terlihat sinkritisme zaman megalith nelolithikum dengan Syiwa Jawa Timur. Oleh Rakyat Negara Daha candi yang dibangun Maharaja Sari Kaburangan ini dikenal dengan Candi Laras.
               Zaman Negara Daha dikenal sebagai masa Syiwaisme, meskipun tidak murni, karena agama itu telah berpadu dengan unsur Agama Budha. Dari Jawa kepercayaan ini masuk ke Kalimantan yang lebih dikenal denga aliran Kalacakra. Pemujaan Batara Kala sampai  saat  ini terdapat sisa-sisanya dalam beberapa upacara adat di lingkungan tertentu pada masyarakat  di Kalimantan  Selatan seperti Manyampir Banua,
   Mamagar Banua, Mamalas Padang, Mabarasihi Sungai, Mamalas Tahun dan sebagainya.

              Candi Laras terletak berseberangan dengan Bandar Muara Rampiau yang terletak agak dihulu sedikit dari komplek candi. Pada saat pemerintahan raja-raja di Negara Daha pengaruh Jawa sangat kuat, sehingga raja disebut Raden Panji dan inkarnasi dari Arjuna. Raja pengganti selanjutnya adalah Maharaja Sukarama, namun Maharaja Sukarama tidak menguasai politik dan pemerintahan, sehingga pergolakan istana kadang muncul. Ia kembali ke zaman Budha sebagai lawan Syiwaisme, perebutan kekuasaan berlangsung terus, akhirnya golongan Hindu tampil dengan tokoh Pangeran Tumenggung yang berhasil merebut kekuasaan dengan pembunuhan Pangeran Mangkubumi yang menggantikan Sukarama. Demikian intisari sebagai Hikayat Banjar yang menerangkan tentang Kerajaan Negara Daha.
               Dalam Hikayat Banjar diceritakan, bahwa penobatan Pangeran Tumenggung sebagai raja Negara Daha terjadi dengan kejadian yang menyedihkan seperti juga terjadi atas saudaranya Pangeran Mangkubumi. Mahkota kerajaan tidak dapat dipakainya, gong dan gamelan berbunyi sumbang sedangkan senapan tidak berbunyi lagi. Pengeran Tumenggung merupakan raja terakhir dari Negara Daha. Dalam perjalanan sejarah raja-raja di Kalimantan Selatan, bila diteliti secara seksama Nampak pergantian raja-raja dari Negera Daha sampai ambang kerajaan Banjarmasin terlihat dari : (1) Sekar Sungsang atau Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan ; (2) Maharaja Sukarama atau Mertua Ratu; (3) Pangeran Mangkubumi atau Raden Mantri; (4) Pangeran Tumanggung dan (5) Raden Samudera (nantinya menjadi Raja Banjar bergelar Sultan Suriansyah setelah memeluk agama Islam dengan bantuan Kesultanan Demak, dimana melalui Khatib Dayyan sebagai penghulunya dan dijadikan patokan Tanggal 24 September 1526 sebagai hari kemenangan Raden Samudera / Sultan Siriansyah dan berdirinya Kesultanan Banjar.
                 Pada situs Wikipedia (2011) mengenai profil Kabupaten Tanah Bumbu menyangkut sejarahnya, disebutkan, bahwa “Di daerah Cantung terdapat sebuah lesung batu (yoni) yang menunjukkan adanya pengaruh agama Hindu memasuki wilayah ini pada jaman dahulu kala”, tetapi situs tersebut tidak menjelaskan dari mana, kapan dan bagaimana seluk-beluk ditemukannya lesung batu yang mirip yoni tersebut berasal.31
                Namun hal ini satu aset berharga jika sumber yang menyatakan demikian benar. Satu hal yang harus dipertanyakan jika temuan ini memang yoni tentunya sebuah aset tambahan, bahwa di Cantung (yang saat ini masuk Kabupaten Kotabaru) dulunya merupakan wilayah bagian Kerajaan Tanah Bumbu sebelumnya telah ada pengaruh Hindu, namun yang belum jelas apakah situs batu berupa lesung yang disebutkan sebagai yoni tersebut apakah sudah menjadi bagian situs cagar budaya ataupun telah menjadi benda koleksi Museum Negeri lambung Mangkurat di Banjarbaru. Hal ini tentunya perlu kepastian jika ada rekomendasi dari hasil penelitian Balai Arkeologi.

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 12 | History Of Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia


Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu  Part 12 | History Of Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia


yang dikenal sebagai Candi Agung. Inilah suatu pendapat tentang kemungkinan interpretasi historis tentang terbentuknya Negara Dipa”.29
                Empu Jatmika dan anaknya Empu Mandastana serta Lambung Mangkurat merupakan pelarian dari Keling Kediri Utara bermigrasi ke Nusa Tanjung Nagara dan ini meupakan masuknya pengaruh Jawa ke daerah Banjar, baik pengaruh dalam bidang politik pemerintahan, kebudayaan, kesenian sampai dengan cara berpakaian, kepercayaan Hinduisme serta bangunan candinya. Dalam cerita Hihayat Banjar tersebut secara mitologi diceritakan bahwa Empu Jatmika mewasiatkan kepada kedua anaknya yakni Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat untuk tidak jadi raja, melainkan keduanya harus bertapa di dalam mencari raja.
              Hasil pertapaan Lambung Mangkurat di pusaran air menghasilkan munculnya seorang puteri secara mistis dari buih-buih dipusaran air tersebut, akhirnya kemunculan puteri ini membawa kebahagian bagi Lambung Mangkurat selaku Mangkubumi, Puteri tersebut diberi nama Puteri Junjung Buih, ia mau menjadi raja puteri, namun permintaan Puteri Junjung Buih ia akan bersuami dengan manusia juga dari hasil pertapaan dan petunjuk Yang Maha  Kuasa, akhirnya Lambung Mangurat bertapa dan dalam mimpinya ia mendapat petunjuk tentang seorang putera dari Majapahit. Ternyata putera tersebut bernama Raden Putera, Raden Putera di datangkan dari Jawa diaturkan tata cara pelamarannya, akhirnya dipersuntinglah Puteri Junjung Buih sebagai calon permasurinya.
              Perkawinan dan penobatan Raden Putra sebagai raja bersama Puteri Junjung Buih dimeriahkan secara besar-besaran. Raden Putera kemudian bergelar Pangeran Suryanata yang berarti Raja Matahari. Demikian sebagian isi dari Hikayat Banjar yang merupakan historiografi (penulisan sejarah) secara tradisional di daerah ini yang umumnya sudah kental dari cerita rakyat di Kalimantan Selatan secara mitologi. Nama Kerajaan Negara Dipa diperkirakan merupakan kesatuan antara kebudayaan Melayu dan Ngaju, yang berarti Negara diseberang sana atau dalam sebutan Jawa Klasik sebagai kerajaan Seberang.
                Kerajaan Negara Dipa sangat dikenal oleh etnis Dayak Maanyan yang merupakan suku yang mendominasi di daerah ini sebagai kerajaan mereka yang diduga bernama Nan-Sarunai, walaupun versi lain menyatakan Nan Sarunai terdahulu sebelum kerajaan Negara Dipa hadir.  Tidak banyak yang diketahui pada pemerintahan Pangeran Suryanata dan Puteri Junjung Buih di kerajaan Negara Dipa, hanya disebutkan bahwa wilayah yang tunduk saat itu adalah Sukadana, Danggau, Sambas, Batang Lawai dan Kotawaringin. Begitu pula Pasir, Kutai, Berau, Karesikan, bahkan raja Majapahit yang besar itu menghormati Pangeran Suryanata dengan Mangkubumi Lambung Mangkurat yang termasyhur kegagahan dan keperwiraaanya. 30
               Menyangkut sistem pemerintahan kerajaan Negara Dipa tidaklah banyak diketahui, hanya saja disebutkan tentang nama Mangkubumi Lambung Mangkurat yang merupakan tokoh yang berperan penting dalam kerajaan Nagara Dipa sejak berdirinya kerajaan ini hingga masa lenyapnya. Dalam Hikayat Banjar disebutkan juga jabatan Panganan dan Pangiwa, Jabatan tersebut dijabat oleh tokoh Arya Megatsari dan Temunggung Tatah Jiwa, Jabatan dibawahnya adalah Jaksa yang dijabat oleh Patih Paras, Patih Pasi, Patih Luhur dan Patih Dulu. Selanjutnya jabatan Mantri Bumi yang dijabat oleh empat orang Mantri Bumi yaitu : Sang Panimba Sagara, Sang Panagruntun Manau, Sang Pambalah Batung  dan Sang Jampang Sasak, dimana mereka mempunyai wilayah kekuasaan untuk memerintah empat puluh orang Mantri Sikap. Saudara raja mendapat gelar Dipati mempunyai seribu orang pemimpin yang siap setia menunggu perintah Mangkubumi.
                Hikayat Banjar tidak  banyak memceritakan tentang lenyapnya kerajaan Negara Dipa, yang ada kemunculan baru kerajaan penggantinya adalah Negara Daha. Hikayat Banjar hanya memaparkan penyebab perpindahan Negara Dipa menjadi Negara Daha adalah karena masalah keluarga saja, diantaranya diceritakan singkat antara seorang anak yang  bernama  Raden  Sekar  Sungsang  yang  tidak  menyadari  mengawini    ibunya   yang  menjadi raja di Negara Dipa, yaitu

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 11 | History Of Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia


  kehidupan ekonomi sebagai pedagang. Dalam Tutur Candi dikatakan, bahwa Empu Jatmika sebagai pendiri kerajaan Negara Dipa adalah anak seorang saudagar Keling yang bernama Jantam.23
               Kerajaan Negara Dipa memiliki daerah-daerah bawahan yang disebut Sakai, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Mantri Sakai. Sebuah pemerintahan Sakai kira-kira sama  dengan  pemerintahan lalawangan (distrik) pada masa Kesultanan Banjar. Salah satu negeri bawahan Kuripan adalah Negara Dipa. Menurut Hikayat Banjar, Negara Dipa merupakan sebuah negeri yang didirikan Ampu Jatmika yang berasal dari Keling (Coromandel).24 Menurut Veerbek (1889:10) Keling, propinsi Majapahit di barat daya Kediri. Menurut Paul Michel Munos dalam Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Senanjung Malaysia, hal 401 dan 435, Empu Jamatka (maksudnya Ampu Jatmika) mendirikan Negara Dipa diperkirakan sekitar tahun 1387.
             Ampu Jatmika berasal dari Keling, dengan rombongannya membawa  kapal  si  Prabayaksa  telah  tiba di Pulau Hujung Tanah. Di Pulau inilah ia membuat negeri dengan  candi  yang  disebut  dengan Negara  Dipa. Persoalan interpretasi Keling seperti dikemukakan ada yang menyatakan negeri India, tetapi istilah Keling menurut Hipotesa Van Der Thuuk sebagaimana dikutip M. Idwar Saleh (1981) adalah berhubungan dengan Jawa, bukan Kalingga di India.
                Di Jawa Timur terdapat sebuah distrik dengan nama Keling serta dalam cerita-cerita Jawa sebagai nama alternatif dari Kuripan atau Jenggala.25  Diduga Ampu Jatmika menjabat sebagai Sakai di Negara Dipa (situs Candi Laras atau Margasari). Ampu Jatmika bukanlah keturunan bangsawan dan   juga   bukan   keturunan  raja - raja Kuripan,Kuripan sebagai penguasa Kerajaan Kuripan yang wilayahnya lebih luas tersebut, tetapi walau demikian Ampu Jatmika tidak menyebut dirinya sebagai raja, tetapi hanya sebagai Penjabat Raja (pemangku).     

                        Penggantinya Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) setelah bertapa di sungai berhasil memperoleh Putri Junjung Buih yang kemudian dijadikan Raja Putri di Negara Dipa. Raja Putri ini sengaja dipersiapkan sebagai jodoh bagi seorang Pangeran yang  sengaja  dijemput  dari  Majapahit yaitu  Raden Putera yang kelak bergelar Pangeran Suryanata. Keturunan Lambung Mangkurat dan keturunan mereka berdua inilah yang kelak sebagai raja-raja di Negara Dipa. Menurut Tutur Candi, Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang lebih dulu berdiri sebelum Kerajaan Negara Dipa. Karena raja Kerajaan Kahuripan menyayangi  Empu  Jatmika  sebagai anaknya  sendiri maka setelah dia tua dan mangkat kemudian seluruh wilayah kerajaannya (Kahuripan) dinamakan sebagai Kerajaan Negara Dipa, yaitu nama daerah yang didiami oleh Empu Jatmika.26
                       Kerajaan Negara Dipa semula beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat  hilir  Sungai  Bahan  tepatnya  pada  suatu  anak  sungai  Bahan, kemudian ibukotanya pindah ke hulu Sungai Bahan yaitu sekitar Candi Agung (Amuntai), Empu Jatmika menggantikan kedudukan Raja Kuripan (negeri yang lebih tua) yang mangkat tanpa memiliki keturunan, sehingga nama Kerajaan Kuripan berubah menjadi Kerajaan Negara Dipa. Ibukota waktu itu berada di Candi Agung (Amuntai) Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kerajaan Negara Dipa ini dikenal sebagai penghasil intan pada zamannya.
                        Mengenai perekonomian Negara Dipa Tundjung (1991) memaparkan, bahwa sumber utama kehidupan ekonomi adalah pertanian, sedangkan pusat kerajaan terletak ditepian sungai besar, sehingga pemerintahannya berpengaruh kedaerah pedalaman seperti daerah Tabalong,
 Balangan, Petak,  Hamandit, Labuhan Amas dan  daerah  lain disekitarnya. Penanaman lada dibatasi untuk keperluan sendiri. Selain itu Negara Dipa juga penghasil hasil bumi seperti emas, intan, batu-batuan perhiasan, lilin, rotan dan lainnya.27     
                     Memang disadari bahwa merokstruksi tentang sejarah  Negara Dipa amatlah sulit, mengingat  sumber - sumber  yang  mendukungnya  relatif  sedikit, sumber  yang  ada oleh sumber Barat dianggap sebagai catatan non-historis atau dianggap bersifat dongeng atau legenda (mitologi), hal ini diakui Goh Yoon Fong (2013) mengenai asal-usul Banjarmasin (Kerajaan Banjar) sebagai etnisitas politik masih kabur karena kelangkaan dan keterangan yang tidak memuaskan mengenai sumber-sumber tentang orang Banjar yang sebagian besar dikumpulkan dari mitologi lokal. 28
A Gazali Usman (1989) mengemukakan suatu pendapat tentang kemungkinan interpretasi historis mengenai terbentuknya Kerajaan Negara Dipa :
      “ Dalam abad ke-13 terjadi peperangan Ganter antara Ken Arok dengan Raja Kertanegara (tahun 1222) Ken Arok tokoh dalam kalangan bawah yang berhasil membunuh Tunggul Ametung dan memperisiteri Ken Dedes, selanjutnya ambisinya diteruskan, sehingga mengalahkan Kertajaya. Dalam peperangan itu Kertajaya mati, pengikutnya inilah yang melarikan diri ke Kalimantan, dan inilah emigran para bangsawan Jawa yang kemudian mendirikan kerajaan Negara Dipa  di  Amuntai  sekarang  dengan  mendirikan sebuah candi

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 10 | History Of Dayak People In Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia

B.     Zaman Hindu Budha di Kalimantan Selatan
             Pada masa munculnya kerajaan yang bercorak Hindu dan kemudian dilanjutkan dengan masa Budha tidak banyak sumber yang menerangkan tentang keberadaan dan pengaruhnya di wilayah Tanah Bumbu.  Pengaruh zaman Hinduisme-Budha banyak terarah pada masa Kerajaan Negara Dipa dan Negara Daha, M. Idwar Saleh (1958) mengakui lebih awal tentang berita-berita lama atau sejarah tua dari daerah ini tak seberapa jelas, berhubung kurangnya bahan-bahan tertulis, lebih-lebih mengenai hingga masa berakhirnya abad ke-16. Hikayat Lambung Mangkurat atau Tutur Candi atau Silsilah Raja-Raja Banjar dan Kota Waringin paling lambat menurut A.A. Cense diselesaikan lebih kurang 1728, yang didasarkannya atas perbandingan-perbandingan dengan berita-berita Daghregister Batavia tidaklah dapat memberikan pegangan, karena banyaknya bentuk-bentuk yang masih bersifat dongeng.18
                Periode ini merupakan periode yang agak gelap, hal ini disebabkan karena sumber sejarah yang dapat menunjukkan adanya Kerajaan Negara Dipa sangatlah minim, kecuali hanya Candi Agung di Amuntai sebagai bukti peninggalan Hinduisme terhadap kerajaan Negara Dipa ini, salah satu sumber yang dapat dipergunakan adalah tradisi lisan (oral tradition) yang berkembang dalam dalam kalangan luas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan berupa Hikayat Banjar ataupun Tutur Candi.19
            Mengenai terbentuknya Negara Dipa pada Hikayat Banjar disebutkan dalam cerita yang menyatakan :
            “Mula-mula saudagar Keling bernama Saudagar Mangku Bumi terlalu kaya beberapa manaruh Gedung dan kacedan  kapal dan selop dan kuteng dan pacalang dan galiang tiada  terperi   manaruh   harta  banyaknya  ialah  menyimpan  emas dan  perak  dan segala  permata  yang elok - elok, maka ada ia beranak seorang laki-laki, maka dinamainya Ampu Jatmika dan dinamainya isteri saudagar Mangku Bumi itu Sitira.20

            Menurut Hikayat Lambung Mangkurat Gusti Mayur, dijelaskan bahwa, Ampu Jatmika ini nantinya kemudian mengawini seorang perempuan bernama Sira Manguntur dan berputra dua orang yang diberi nama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat. 21 Paul Michel Munoz berpendapat, Ampu Djatmika mendirikan Negara Dipa sejak ±1387.22   Mengenai  asal- mula terbentuknya  Kerajaan Negara Dipa, Tundjung (1991) memaparkan, seperti disebutkan dalam Tutur Candi, Maupun   pada  Hikayat  Banjar, pendiri kerajaan mempunyai

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 9 | History Of Dayak People In Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu 


             Dari paparan diatas dapat diulas, bahwa  dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin telah menunjukan bahwa wilayah Kalimantan bagian selatan dan tenggara ternyata sudah menarik kehadiran manusia prasejarah dari jalur perjalanan mereka dari Asia Tenggara daratan menuju ke Asia Tenggara kepulauan (lihat hipotesa persebaran Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutero Melayu (Melayu Muda) yang telah dikemukakan diatas).
             Penelitian terdahulu misalnya yang dilakukan (Harry Widianto) di situs Gua Babi dan Gua Tengkorak di Kabupaten Tabalong (Kalimantan Selatan bagian utara ) sudah terdapat kehidupan dan kebudayaan prasejarah paling tidak sekitar 5.000 tahun yang lalu, dengan manusia pendukung budaya berciri ras Australomelanesid. Menurut Harry Widianto dalam Bambang Sugiyanto (2011) kelompok manusia ras Australomelanesid   ini boleh jadi merupakan salah satu kelompok yang menyimpang dari jalur pergerakan manusia (migrasi) yang berasal dari Asia Tenggara daratan melalui semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa dan terus ke timur. Salah satu kelompok kecil tersebut ada yang menuju utara yaitu ke lokasi situs prasejarah yang ada di Kalimantan Selatan.17
                       Jadi sisa-sisa yang ditinggalkan di situs Gua Babi dan Gua Tengkorak di Kabupaten Tabalong tentunya sangat berbeda dengan kelompok manusia pra-sejarah  yang dianggap rumpun Melayu, karena Pendapat lain menyatakan sebahagian besar dari penduduk  Nusantara  termasuk  ras  Paleomongoloid,  atau  ras Mongoloid  tertua, istilah  Paleomongoloid adalah  sebutan yang diberikan oleh von Eickstedt untuk ras Melayu. Sebagai cabang dari ras induk Kuning, ras Melayu ini yang tua. Persebarannya dari sumber aslinya (yakni mungkin  di daerah Tibet) menuju ke Selatan melalui jazirah Hindia Belakang. Adapun cabang lain dari  ras  induk  Kuning,  yakni  ras Mongoloid bergerak ke Timur menuju Cina, Korea dan Jepang. Ras Proto-Melayu yang menetap  di  pulau   Kalimantan  menjadi  cikal - bakal  orang Dayak, sementara ras Australomelanesid kemungkinan besar meneruskan perjalanan mereka dalam kelompoknya, mengingat masa Glacial IV itu paparan Sunda menyatu dengan pulau di Kalimantan.

             Dengan demikian situs arkeologi Gua Sugung, Gua Payung dan Gua Landung (survey tahun 2006 dan 2008) ditambah dengan situs Gua Bangkai (tahun 2010) merupakan aset daerah Kabupaten Tanah Bumbu sebagai situ cagar budaya, dimana tempat tersebut pernah menjadi hunian manusia pra-sejarah yang ada di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu di Kalimantan Selatan. 
            Berdasarkan hasil kesimpulan sementara, bahwa gua-gua dan ceruk hunian manusia di masa lampau di kawasan Mantewe   Kabupaten  Tanah  Bumbu  ini  merupakan  tempat   manusia  prasejarah yang diduga sementara juga sama dengan penghuni gua Babi dan Gua Tengkorak di Tabalong adalah berasal dari ras Australomelanesid yang umumnya bermigrasi menuju wilayah Benua Australia, tetapi sebagian kelompok mereka menyimpang  dari jalur pergerakan manusia (migrasi) yang berasal dari Asia Tenggara daratan melalui semenanjung Malaysia (Malaya), Sumatera, Jawa dan terus ke timur. Salah satu kelompok kecil tersebut ada yang nyasar menuju utara yaitu ke lokasi situs prasejarah yang ada di Kalimantan Selatan.
            Mengenai situs Gua Bangkai di kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu yang diteliti tahun 2010 dapat disimpulkan sementara adalah sebuah hunian manusia prasejarah yang khusus digunakan sebagai tempat pembuatan alat batu atau situs perbengkelan, dimana dari hasil penelitian menunjukan betapa intensifnya pekerjaan pembuatan alat batu di situs Gua Bangkai ini. Kawasan Pegunungan Meratus di Kalimanatan Selatan dengan seluruh daya dukung kehidupannya telah membuktikan keberadaan hunian manusia prasejarah masa Mesolitik (zaman batu tengah)  - Neolitik (zaman batu muda).
            Eksistensi manusia pra-sejarah Kalimanatan  Selatan  diketahui sejak 6000-5000 tahun lalu di situs Gua Babi, Dusun Randu, Kec. Muara Uya, Kabupaten Tabalong. Hal ini dibuktikan melalui temuan ekskavasi pada beberapa gua, di antaranya Gua Babi, Gua Tengkorak, dan Gua Cupu berupa, kapak batu, alat serpih, alat tulang, sisa tulang binatang, timbunan cangkang kerang, dan fragmen gerabah. Temuan yang serupa juga ditemui di Gua Sugung, Gua Payung, Gua Landung dan Gua Bangkai di Kecamatan Mantewe  Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.


Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 8 | History Of Tanah Bumbu , Kalimantan Selatan , Indonesia

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu 


Berdasarkan pengamatan bentuk alat dan serpihan yang berhasil dikumpulkan, menurut Bambang Sugiyanto (2011) dapat disimpulkan sementara, bahwa penghuni Ceruk Bangkai belum mempunyai tingkat teknologi pembuatan alat yang baik dan pengenalan bahan batuan yang belum baik, sehingga dalam proses pembuatan peralatan belum dapat dilakukan secara maksimal.14  Selain itu juga ditemukan perhiasan dari kerang (cauri), dengan adanya perhiasan dari kerang di situs Ceruk Bangkai memberikan gambaran bahwa penghuni Ceruk Bangkai sudah mengenal seni keindahan yang diwujudkan dalam bentuk kalung atau gelang dari untaian perhiasan kerang.
            Pada situs Ceruk Bangkai juga ditemukan gerabah atau artefak gerabah (wadah dari tanah liat yang dibakar), tampaknya penghuni Ceruk Bangkai mempunyai kecenderungan banyak menggunakan wadah dalam pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Manusia prasejarah yang menghuni Ceruk Bangkai sudah mempunyai keahlian dalam pembuatan gerabah atau dapat dikatakan memiliki keahlian dalam pembuatan peralatan dan teknologi  pembuatan gerabah yang cukup tinggi.
            Hal ini tentunya menunjukkan, bahwa dalam pembakaran wadah tanah liat tersebut tentunya menggunakan perapian, karena membakar gerabah memerlukan api dengan suhu atau derajat panas yang cukup tinggi.  Selain itu keberadaan wadah dari tanah liat bakar ini mengisyaratkan bahwa masyarakat pendukung budaya prasejarah yang pernah tinggal di Ceruk Bangkai, sudah mempunyai kemampuan  dalam  mengolah dan membuat  bahan  makanan  mereka   yang  cukup  tinggi, dengan  demikian terdapat kemungkinan besar mempunyai bentuk makanan yang cair yang memerlukan wadah dalam penyajian atau penyimpanan.15
              Kemungkinan sebagai dugaan dengan adanya peralatan gerabah (wadah dari tanah liat yang dibakar) manusia prasejarah penghuni Ceruk Bangkai telah  melakukan  pertukaran  barang  dengan  kelompok   manusia   prasejarah lainnya di sekitarnya, mengingat saat itu belum mengenal mata uang, maka sistem barter memungkinkan terjadi. Bentuk pertukaran barang (barter) ini juga akan mempengaruhi pada kemajuan teknologi dan kemampuan diantara kelompok-kelompok manusia prasejarah yang melakukannya. Pengetahuan baru baik yang berkaitan dengan teknologi pembuatan barang, peralatan dan teknologi pencarian bahan makanan dan kesenian secara lambat namun pasti telah membuat perubahan yang sangat berarti dalam kehidupan dan kebudayaan saat itu. Dengan adanya kemajuan tersebut, sifat  kemanusiaan manusia prasejarah yang tinggal di dalam Ceruk Bangkai semakin terlihat mendekati kesempurnaan seperti yang kita alami saat ini.16

           Berdasarkan pengamatan dilapangan, Ceruk Bangkai yang ada di kawasan Kecamatan Mantewe merupakan kawasan dari salah satu bukit karst yang terpisah dari rangkaian perbukitan karst yang lain, Secara umum perbukitan karst di wilayah ini, baik yang merupakan rangkaian pegunungan atau perbukitan dan yang berdiri sendiri, berada di wilayah yang sebagai besar merupakan rawa-rawa dan sungai.
          Kondisi ini sangat mendukung pemilihan gua-gua dan ceruk yang ada diperbukitan karst sebagai tempat tinggal  huni bagi manusia  prasejarah. Rawa - rawa dan sungai  selain  menyediakan  air untuk keperluan hidup manusia prasejarah saat itu juga menyediakan bahan makanan alternatif yang  mengandung  gizi yang  cukup tinggi  bagi kelompok manusia prasejarah penghuni gua dan ceruk. Berbai jenis ikan dan udang, serta kerang air tawar yang dapat diambil dan ditangkap.

          Pada Situs Ceruk Bangkai tulang-belulang yang ditemukan merupakan pembuangn sisa-sisa makanan dan sisa pembuatan alat batu, jumlah fragmen tulang yang demikian besar  dan menumpuk menunjukan adanya unsur kesengajaan pembuangan sampah sisa makanan. Sampai berakhirnya penelitian di Ceruk Bangkai belum ditemukan tanda-tanda sisa manusia ataupun tulang belulang manusia terutama penguburan manusia. 

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 7

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu 

Dari tujuh desa diatas, yang sudah disurvei adalah kawasan karst yang ada di Desa Mantewe, Desa Rejosari dan Dukuhrejo. Sementara itu ada satu gugus karst diperbatasan Desa Suka Damai dan Desa Bulurejo yang telah dikunjungi Tim Survei, yaitu situs Gua Payung (nama lokal adalah Gua Batu Tanjak). Di Desa Mantewe  terdapat situs Gua Sugung yang potensial sebagai hunian prasejarah. Di Desa Rejosari terdapat situs Gua Meratus dan di Desa Dukuhrejo terdapat gugus karst Bukit Bangkai dengan situs utama adalah Ceruk Bangkai.12

2. Situs Ceruk Bangkai di Desa Dukuhrejo  
          Tim peneliti dari Balai Arkeologi Banjarmasin (2011) memfokuskan penelitiannya untuk mengetahui potensi prasejarah yang ada di Bukit Bangkai. Lokasi penelitian utama adalah Ceruk Bangkai. Nama Bangkai tersebut oleh Tim Peneliti dalam Bambang Sugiyanto (2011) disebutkan “Nama Bangkai ini sebenarnya berasal dari kata lokal buangkei yang artinya kera, yang kemudian menjadi kata bangkai dan digunakan sebagai nama situs”. 13 
           Sebagai salah satu ceruk payung yang mempunyai morfologis sangat layak huni dengan syarat lokasi hunian yang terpenuhi semua. Ceruk Bangkai atau yang nantinya akan sering disebut dengan Gua Bangkai, Ceruk payung ini disebut juga oleh penduduk dengan Liang Bangkai yang ada di Desa Dukuhrejo.         Berdasarkan analisis temuan dari hasil penelitian prasejarah pada situs Ceruk Bangkai di Desa Dukuhrejo Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2010 membuktikan, bahwa situs tersebut memang pernah digunakan oleh sekelompok manusia prasejarah pada masa lampau. Bukti temuan artefak dan non-artefak yang dikumpulkan dari enam kotak uji ekskavasi. Penelitian ini menggunakan metode ekskavasi (Penggalian), secara morfologis, keadaaan Ceruk Bangkai merupakan sebuah ceruk  yang mempunyai ukuran cukup besar dengan sumber air bersih yang di dalamnya, sangat memenuhi persyaratan gua hunian manusia, sehingga wajarlah dijadikan sebagai tempat tinggal bagai kelompok manusia prasejarah.

             Tampaknya budaya yang berkembang di situs ini mempunyai hubungan yang erat dengan budaya serupa yang sebelumnya diketahui pernah ada di Gua Sugung dan Gua Payung (Gua Sugung dan Gua Payung pernah diteliti pada tahun 2006 dan 2008 oleh Balai Arkeologi Banjarmasin).  Artefak yang berhasil ditemukan terdiri atas : serpihan batu yang berupa alat batu dan tatal, perhiasan dari kerang, serta fragmen gerabah baik yang polos maupun yang mempunyai pola hias tertentu.  Sampai hari terakhir penelitian belum menemukan adanya alat dari tulang atau kerang yang biasanya banyak ditemukan pada situs- situs gua hunian lain yang ada di Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
              Artefak yang paling dominan pada situs Ceruk Bangkai adalah serpihan batu, secara umum serpihan batu yang banyak ini menunjukkan kegiatan pembuatan alat batu yang sangat intensif pada masa penghunian ceruk ini. Tampaknya kekayaan sumber bahan batuan ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pendukung budaya prasejarah disitus ini.  Ketika kegiatan penelitian tahun 2008 yang lalu telah dilakukan pembuatan jalan dan pemerataan tanah di depan Ceruk Bangkai, tim peneliti berhasil menemukan sebuah beliung persegi dapa permukaan tanah di depan Ceruk Bangkai, hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang berkembang pada situs itu paling tidak mempunyai tingkat teknologi Neolitik (zaman batu muda). Sementara serpihan batu yang beraneka ragam bentuk juga mengisyaratkan peralatan dan teknologi Mesolitik (zaman batu tengah) yang cukup maju dengan bukti pemilihan batuan yang cukup bagus (batu rijang yang paling utama). 


Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 6



Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu 

              Semua makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air, dan inilah alasan utama mengapa manusia prasejarah  memilih lokasi tempat tinggal atau gua-gua hunian selalu berada di dekat sumber atau mata air. Gua-gua yang kering, luas, berudara segar dengan intensitas sinar yang cukup serta yang dekat dengan sumber air, merupakan pilihan manusia prasejarah sebagai tempat tinggal mereka bertahan hidup.
               Dengan ditemukannya 3 (tiga) buah gua hunian prasejarah di kawasan karst di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Lokasi situs Mentewe ini tidak seperti situs Gua Babi dan Gua Tengkorak yang berada dalam satu gunung. Tetapi ketiga situs gua hunian itu terdapat pada gunung karst yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah jarak yang lumayan jauh. Hampir semua situs gua hunian prasejarah terdapat pada gugusan daerah pegunungan  atau perbukitan  karst  di jajaran Pegunungan Meratus.Tampaknya Pegunungan Meratus mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dalam persebaran budaya prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan.
          Penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin semakin mengungkap budaya manusia pra-sejarah yang pernah tinggal di kawasan Tanah Bumbu, dimana berdasarkan laporan hasil penelitian di Gua Bangkai kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu yang dilaksanakan pada tahun 2010, menunjukkan beberapa temuan baru selain sebelumnya telah melakukan penelitian di Gua Sugung, Gua Payung ( nama lokal Gua Batu Tanjak) dan Gua Landung.
          Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dan 2008, diketahui beberapa desa di wilayah kecamatan Mentewe yang mempunyai potensi karst yang sangat baik dan sangat layak untuk diteliti lebih lanjut.11 Balai Arkeologi Banjarmasin melihat potensi yang ada di Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu, dimana Kecamatan Mantewe terbagi dalam 13 desa yang mempunyai potensi kawasan karst yang tersebar di desa Sidomulyo, Bulurejo, Mentewe, Sukadamai, Rejosari, Dukuhrejo dan Emil Baru.















Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu Part 5

Masa Pra-Sejarah di Kalimantan Selatan dan Tanah Bumbu  


        Pada perkembangan yang berikutnya, manusia pra- sejarah mulai mengenal gua dan ceruk payung sebagai salah satu tempat bernaung atau beristirahat yang nyaman, yang kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal mereka dalam rumpun keluarganya.
         Hasil penelitian dari tim peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin seperti dipaparkan Bambang Sugiyanto (2007) selain sebelumnya menemukan 2 (dua) buah gua hunian manusia pra-sejarah di Gua Sugung dan Gua Landung, juga bertambah satu gua lagi berikut pemaparannya :

            “Berikutnya pada survei dan ekskavasi yang dilakukan pada kawasan karst di Kabupaten Tanah Bumbu, tepatnya di Kecamatan Mentewe pada akhir tahun 2006, tim penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin berhasil menemukan 3 (tiga) buah situs gua hunian prasejarah baru, yaitu: Gua Sugung, Gua Payung, dan Gua Landung. Hasil ekskavasi penjajagan yang dilakukan pada situs Gua Sugung dan Gua Payung menunjukkan bahwa kedua gua tersebut memang pernah dimanfaatkan oleh kelompok manusia prasejarah pada masa yang lalu. Indikasi kehidupan prasejarah itu antara lain tampak dengan ditemukannya ratusan cangkang kerang air tawar dari jenis thiaridae (yang biasa dikenal dengan istilah “katuyung” oleh penduduk setempat), puluhan serpihan batu, sisa tulang binatang, dan fragmen gerabah baik yang polos maupun berhias. Sementara itu, jejak budaya Gua Landung terungkap lewat survei permukaan yang menemukan beberapa serpihan batuan dan sisa cangkang kerang”. 10

            Berdasarkan keterangan di atas dapatlah dikatakan bahwa jejak-jejak kehidupan prasejarah di Kalimantan Selatan ini memang banyak ditemukan pada gua-gua dan ceruk payung yang terdapat di kawasan karst yang banyak terdapat di sekitar Pegunungan Meratus, dan juga di tepian sungai  purba seperti Sungai Riam Kanan (Kabupaten Banjar) yang berhulu di Pegunungan Meratus. Sungai, danau ataupun rawa-rawa yang ada merupakan sumber air yang sangat diperlukan untuk menunjang kelangsungan kehidupan manusia.

Remedial Matematika Wajib Kelas x dan Matematika Peminatan Kelas XI

Untuk Kelas X (Berkelompok Max 4 Orang) *Buat Video Durasi Minimal 5 Menit berisi Nyanyian/Yel-yel Tentang Rumus Trigonometri: #A...